Risiko Bisnis: Finansial, Sosial, dan Emosional serta Cara Memitigasinya

Risiko Bisnis: Finansial, Sosial, dan Emosional serta Cara Memitigasinya

Berbicara mengenai risiko, pasti Sahabat Wirausaha sudah tidak asing lagi. Hidup kita penuh dengan risiko dalam keseharian, mulai dari menyeberang jalan, memilih rute ke tempat kerja saat terburu-buru, berkendara, dan lain-lain. Tapi, risiko yang sering kita pertimbangkan dan coba mitigasi selama ini biasanya mudah terlihat di depan mata. Lalu bagaimana dengan risiko-risiko yang seringkali tersembunyi dan tidak kita sadari sampai kita mengalami dampaknya?

Risiko yang bersifat seperti itu banyak terdapat di dunia bisnis. Pernahkah Sahabat Wirausaha mengalaminya? Pernahkah Sahabat Wirausaha merasa yakin sudah melakukan semua proses secara rapi, terstruktur, dan terencana, tetapi tetap saja mengalami hal-hal yang tidak diinginkan saat menjalankan usaha? Ternyata, risiko dalam membangun dan menjalankan usaha bukan sekedar risiko untung rugi dan ramai tidaknya sebuah usaha. Kenyataannya ada risiko-risiko yang lebih mendalam daripada itu, lho.

Berdasarkan Investopedia.com, risiko bisnis mencakup segala hal yang dapat mengganggu atau menggagalkan sebuah usaha untuk mencapai target finansialnya. Jadi, risiko itu ternyata tidak hanya berupa hal yang dapat menggagalkan bisnis, lho. Misalkan usaha Sahabat Wirausaha memiliki target untuk mencapai angka penjualan Rp. 100.000.000 di kuartal ini, maka perlu juga dianalisis risiko apa saja yang bisa menyebabkan usaha tersebut tidak mencapai angka penjualan itu. Risiko yang dimaksud juga bisa berasal dari internal perusahaan maupun eksternal. Risiko eksternal itulah yang membuat sebuah usaha tidak akan bisa membuat dirinya betul-betul bebas risiko. Terutama karena eksternal perusahaan bersifat sangat cepat berubah dan tidak bisa kita kendalikan. Meskipun demikian, hal yang dapat dilakukan adalah menerapkan manajemen risiko untuk meminimalisir dampak maupun kemungkinan risiko tersebut terjadi.

Mengapa Manajemen Risiko itu Penting

sumber gambar: sba.gov

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh sba.gov, dalam dua tahun pertama hanya dua per tiga atau 66,6% usaha yang dapat bertahan. Dalam lima tahun, hanya 50% yang mampu bertahan dan melanjutkan kegiatan bisnisnya. Angka survival itu terus menurun seiring berjalannya waktu namun lama kelamaan grafik tersebut menjadi semakin landai. Landainya grafik tersebut menggambarkan bahwa perusahaan yang berhasil bertahan hidup lama sudah mampu meminimalisir risiko-risiko yang selama ini dihadapinya dari tahun ke tahun.

Besarnya persentase kegagalan di tahun pertama dan kedua menggambarkan pula betapa banyaknya usaha-usaha muda yang gulung tikar. Hal ini bisa disebabkan oleh dua hal, pertama mereka tidak sanggup memitigasi risiko karena tidak tahu caranya, atau kedua mereka bahkan tidak tahu sama sekali mengenai risiko-risiko tersebut. Inilah mengapa penting bagi Sahabat Wirausaha, terutama pengusaha-pengusaha yang usia bisnisnya masih muda, untuk sadar akan risiko dan paham akan cara memitigasinya. Lalu, apa saja risiko yang akan dihadapi oleh Sahabat Wirausaha?

1. Resiko Finansial

Risiko finansial pastinya jadi hal yang paling kentara untuk dibahas, terutama di dunia bisnis. Segala sesuatu dalam kegiatan bisnis pasti berhubungan dengan uang, dan segala keputusan yang berhubungan dengan uang pasti memiliki risiko. Berdasarkan investopedia.com, meskipun cukup luas, risiko finansial dapat dibagi menjadi empat jenis risiko, yaitu risiko pasar, risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko operasional.

2. Risiko Pasar

Pasar atau market selalu berubah dari waktu ke waktu. Banyak sekali hal yang dapat mengubah preferensi target pasar kita, dan inilah yang membuat Sahabat Wirausaha harus selalu awas dengan kemungkinan-kemungkinan arah perubahan itu. Beberapa contoh hal yang dapat mengubah preferensi pasar antara lain teknologi dan kompetitor.

Teknologi sekarang berkembang semakin pesat. Pesawat pertama yang berhasil diciptakan dan berhasil terbang dibuat di tahun 1903, sedangkan peluncuran roket pertama yang memungkinkan manusia untuk mendarat di Bulan terjadi di tahun 1969. Hanya dalam waktu 60 tahun teknologi berkembang begitu cepat. Terlebih lagi dengan adanya internet yang menjadi pemicu perubahan pesat baik dari segi teknologi maupun dari kebiasaan manusia melalui digitalisasi.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mengemukakan bahwa perkembangan digital mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang membantu penyebaran akses internet ke pelosok Indonesia. Selain itu, pemerintah juga menggelontorkan dana sebesar Rp. 140,000,000,000,- untuk memberikan beasiswa kepada 25,000 siswa untuk mengikuti pelatihan Digital talent. Upaya tersebut juga berkontribusi dalam menyiapkan infrastruktur digital yang baik di Indonesia.

Namun, perubahan teknologi yang menimbulkan pergeseran gaya berbelanja masyarakat dari offline ke online tidak disambut dengan sigap oleh semua perusahaan. Sebagai contoh, bisnis retail mengalami penurunan semenjak e-commerce berkembang di Indonesia. 7-Eleven gulung tikar di Indonesia, dan di tahun 2019 Hero menghentikan operasi 26 gerainya dan memutuskan hubungan kerja dengan lebih dari 500 karyawannya. Berkembangnya e-commerce juga merupakan salah satu risiko yang menggeser perilaku pasar dalam berbelanja, yang pada konteks dunia retail tidak cukup cepat untuk dideteksi dan dimitigasi.

Oleh karena itu, untuk menghindari hal yang sama terjadi pada Sahabat Wirausaha, pantaulah terus perkembangan teknologi. Lihatlah bagaimana teknologi baru berpotensi mengubah kebiasaan masyarakat dan target pasar kita. Bila Sahabat Wirausaha paham akan teknologi dan dapat mendeteksi pemanfaatan yang tepat antara teknologi dan preferensi target pasar, siapa tahu Sahabat Wirausaha bisa jadi perusahaan unicorn selanjutnya seperti Go-jek dan Tokopedia!

Berikutnya, kompetitor, tentu jadi hal yang sangat wajar untuk kita perhatikan. Ibarat bermain catur, segala keputusan strategis harus selalu memikirkan kompetitor. Pasalnya, Sahabat Wirausaha dan kompetitor harus berlomba-lomba mendapatkan perhatian dan hati target pasar yang sama. Hal yang dapat dilakukan agar bisa unggul dari kompetitor antara lain dengan strategi diferensiasi. Strategi tersebut adalah strategi yang menetapkan apa perbedaan yang dimiliki bisnis Sahabat Wirausaha dari kompetitor. Ingat! Yang dimaksud dengan perbedaan tidak cukup dengan “lebih enak” atau “lebih murah”, meskipun keduanya juga bisa mengungguli kompetitor. Diferensiasi yang dimaksud adalah perbedaan fitur, keunikan, dan hal lainnya yang membuat bisnis Sahabat Wirausaha menjadi lebih terlihat mencolok. Misalkan, Sahabat Wirausaha dan kompetitor sama-sama berjualan ayam geprek. Maka, Sahabat Wirausaha bisa mencoba menambahkan menu baru ayam geprek mozarella atau ayam geprek sambal matah. Namun, yang perlu dititikberatkan, carilah diferensiasi yang sulit untuk ditiru kompetitor.

Kompetitor tidak hanya dapat menurunkan jumlah penjualan Sahabat Wirausaha, tetapi juga mengubah preferensi dan kebiasaan target pasar sehingga produk yang Sahabat Wirausaha jual menjadi “ketinggalan zaman”. Sebagai contoh, kalau Sahabat Wirausaha ingat, pernah terjadi bentrok antara Bluebird dan Go-jek. Munculnya Go-jek yang memanfaatkan digitalisasi untuk menawarkan begitu banyak kemudahan kepada konsumennya menciptakan ekspektasi baru akan layanan berkendara di tengah-tengah masyarakat. Hal ini menyebabkan Bluebird mengalami penurunan pendapatan dari Rp. 5.47 Triliun di tahun 2015 menjadi Rp. 4.79 Triliun (detik finance). Meskipun regulasi pemerintah juga turut andil dalam perbedaan keduanya, Bluebird terlambat merespon kehadiran Go-jek. Bluebird baru merespon setelah mengalami kerugian yang cukup besar.

Kasus tersebut menjadi pelajaran nyata untuk kita bahwa penting untuk memantau pergerakan kompetitor, baik yang berukuran kecil maupun besar. Teruslah analisa fitur-fitur, strategi, dan mungkin rekanan yang dijalin oleh kompetitor agar kita dapat mengantisipasi strategi kita berikutnya agar dapat selalu unggul dibandingkan kompetitor.

3. Risiko Kredit

Risiko kredit merupakan risiko dimana seseorang gagal dalam melakukan kewajibannya untuk memenuhi kontrak. Sebagai contoh, rekan dagang Sahabat Wirausaha sudah menandatangani kontrak pembayaran produk selama 30 hari. Namun, setelah 30 hari terlewati, ternyata rekan dagang tersebut masih belum juga membayarnya, atau bahkan sama sekali tidak bisa membayarnya. Hal ini nantinya akan memengaruhi tingkat likuiditas bisnis Sahabat Wirausaha dan menahan fleksibilitas pergerakan bisnis karena kas yang seharusnya sudah dimiliki belum juga datang.

Cara memitigasinya salah satunya dapat dengan meletakkan jaminan aset dalam kontrak pembayaran tersebut, sehingga apabila rekan dagang tidak sanggup membayarnya maka Sahabat Wirausaha berhak untuk memiliki atau menjual aset milik rekan dagang tersebut. Cara lainnya bisa juga dengan melibatkan pihak ketiga seperti bank untuk menjamin piutang tersebut. Namun, cara paling ampuh, terutama apabila Sahabat Wirausaha baru pertama kali berdagang dengan rekan tersebut adalah jangan mau dibayar dengan hutang, hehe. Apabila rekan dagang tersebut sudah beberapa kali bertransaksi dengan Sahabat Wirausaha, barulah kita bisa memercayakan rekan tersebut untuk membayar menggunakan hutang.

4. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas adalah risiko yang berhubungan dengan seberapa banyak Sahabat Wirausaha memiliki cadangan kas. Cadangan kas dibutuhkan karena sifat di dunia bisnis yang tidak pernah pasti. Di satu tahun bisa saja kita meraup keuntungan besar, namun di tahun berikutnya mengalami kejatuhan, entah karena kebijakan pemerintah yang tiba-tiba diterapkan ataupun memang sifat produk yang dijual oleh Sahabat Wirausaha bersifat musiman. Contoh lain yang lebih nyata adalah masa pandemi yang sedang kita hadapi sekarang, yang belum ada kepastian kapan situasi akan kembali menjadi normal. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah selama masa transisi tersebut Sahabat Wirausaha sanggup membiayai segala pengeluaran yang dibutuhkan?

Likuiditas tidak juga hanya terpaku pada cadangan kas, tetapi juga seberapa cepat Sahabat Wirausaha mengubah aset-aset yang dimiliki menjadi uang (kas) apabila situasi darurat atau masa transisi terjadi. Semakin sulit sebuah aset untuk dijual dalam waktu cepat, maka semakin tidak likuid bisnis Sahabat Wirausaha. Sebagai contoh, aset pabrik dan aset kendaraan bermotor tentu berbeda tingkat likuiditasnya. Lalu bagaimana cara Sahabat Wirausaha memitigasinya?

Pertama, buatlah perencanaan mengenai asumsi pengeluaran per bulan selama 3 hingga 5 bulan. Misalkan pengeluaran per bulan mencakup biaya karyawan, sewa tempat, bahan baku, dan sebagainya terhitung sebesar Rp. 15,000,000,- per bulan. Maka cadangan kas yang perlu Sahabat Wirausaha sisihkan dan selalu ada dalam simpanan adalah sebesar Rp. 45,000,000 – Rp. 75,000,000,-. Cara melakukannya adalah dengan membuat SOP keuangan yang mengatur pemanfaatan keuntungan penjualan untuk perkembangan perusahaan dan untuk tabungan dana cadangan.

Kedua, cobalah hitung DSO (Days Sales Outstanding). DSO adalah perhitungan seberapa cepat bisnis Sahabat Wirausaha bisa mendapatkan bayaran dari konsumen atau rekanan. Hal ini diasumsikan bila bisnis Sahabat Wirausaha bersifat B2B (Business to Business). Cara menghitungnya adalah dengan menghitung jumlah rata-rata piutang setiap bulan dalam satu tahun kemudian dibagi dengan 365 hari. Hasilnya akan menunjukkan butuh berapa hari bisnis Sahabat Wirausaha mendapatkan kas dari penjualan kepada konsumen atau rekanan. Semakin kecil hasilnya, maka artinya semakin cepat bisnis tersebut mendapatkan kas. Semakin cepat mendapat kas makan semakin likuid pula bisnis tersebut.

5. Risiko Operasional

Risiko operasional adalah risiko paling mendasar yang sifatnya berada di internal perusahaan. Risiko tersebut mencakup risiko kesalahan teknis, pelatihan karyawan, inventori yang berantakan, pencurian, kecurangan, hingga ancaman kebakaran. Jangankan perusahaan kecil, perusahaan besar pun terus terancam dengan risiko semacam ini.

Cara memitigasi risiko ini relatif sederhana namun bukan berarti mudah untuk dilakukan. Buatlah SOP (Standard Operating Procedure) yang ketat dan komunikasikan SOP tersebut ke seluruh jajaran karyawan. Misalkan SOP pengaturan inventori, kapan Sahabat Wirausaha harus memesan bahan baku lagi sebelum semuanya habis. Contoh berikutnya adalah SOP keamanan dan kebersihan dapur untuk menghindari kebakaran dan menjaga kehigienisan makanan. Jangan lupa untuk mengaplikasikan supervisi yang ketat untuk memastikan bahwa semua SOP yang sudah dirancang dijalankan dengan baik.

6. Risiko Sosial

Risiko sosial menurut Tamara Bekefi, Beth Jenkins, dan Beth Kytle (2006) adalah risiko yang berkaitan dengan isu kesehatan, kesejahteraan, dan keadilan ekonomi di lingkungan perusahaan. Dampak dari abainya terhadap risiko ini dapat berupa boikot dan konsumen, protes dari masyarakat, kerusakan pada brand image yang dimiliki oleh Sahabat Wirausaha, hingga tuntutan legal. Sebagai contoh, membuang limbah ke lingkungan masyarakat, menciptakan lingkungan kerja yang tidak kondusif, bahkan hingga tidak mempekerjakan masyarakat sekitar juga dapat menimbulkan dampak dari risiko tersebut. Secara sederhana, risiko sosial adalah risiko terjadinya gesekan hubungan antara bisnis Sahabat Wirausaha dengan lingkungan sekitar.

Cara memitigasinya sama dengan cara Sahabat Wirausaha selama ini secara sadar atau tidak sadar berupaya menciptakan dan menjaga image di tengah-tengah masyarakat atau kawan-kawan. Selalu pastikan bahwa segala proses bisnis berjalan sesuai dengan aturan legal maupun norma di lingkungan sekitar. Jangan berikan celah sedikitpun bagi masyarakat untuk merasa terganggu dengan keberadaan bisnis Sahabat Wirausaha, bahkan bila Sahabat Wirausaha berbisnis sate, arah asap sate pun harus dipikirkan agar tidak mengganggu masyarakat sekitar.

Cara kedua adalah dengan menggunakan media komunikasi. Era internet sekarang ini dapat menjadi ancaman maupun peluang bagi kita karena segala jenis komunikasi dapat tersebar dengan luas dan cepat. Jangan sampai image yang tersebar dari bisnis Sahabat Wirausaha adalah image yang negatif. Maka diperlukan pula komunikasi yang baik antara bisnis dengan lingkungan sekitar baik konsumen maupun masyarakat. Sebagai contoh, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara posting di Instagram mengenai prosedur kebersihan dan kesehatan yang baik yang sudah Sahabat Wirausaha terapkan. Sahabat sering juga kan melihat postingan-postingan semacam itu, terutama di era pandemi ini, bahwa suatu bisnis sudah mengaplikasikan standar kesehatan covid 19. Komunikasi semacam itu akan membantu meminimalisir miskomunikasi dan gesekan, serta memudahkan lingkungan sekitar untuk lebih mengenal bisnis Sahabat Wirausaha lebih dalam.

7. Risiko Emosional / Psikologis

Risiko psikologis adalah risiko ketidaksesuaian antara produk yang dijual dengan kepribadian yang dianut oleh target konsumennya. Sahabat Wirausaha bisa saja sudah melakukan semuanya dengan benar, manajemen risiko finansial dan risiko sosial sudah dimitigasi dengan baik. Namun, ternyata risiko psikologis ini masih dapat menggagalkan terjadinya penjualan.

Sebagai contoh kasus, strategypeak.com menceritakan bahwa kopi instan pertama diperkenalkan di tahun 1900. Namun, penjualan mengalami hambatan karena satu masalah. Di era tersebut, istri masih memiliki peran untuk mengerjakan semua keperluan rumah tangga terutama memasak. Ternyata, banyak dari target konsumen yang merasa khawatir akan dicap pemalas apabila menyajikan kopi instan baik kepada tamu ataupun suami. Pada akhirnya diperlukan sebuah kampanye bahwa kopi instan adalah pembebas bagi istri agar bisa memiliki waktu untuk melakukan hal lain yang lebih penting. Pada tahun 1970 barulah kopi instan menjadi hal yang normal untuk dikonsumsi. Kebayang kan, ketidaksesuaian psikologis bisa memundurkan waktu penjualan hingga 70 tahun?

Hal yang serupa juga terjadi saat kue instan diperkenalkan ke pasar. Namun, perbedaannya adalah ibu rumah tangga kurang merasa “terlibatkan” dalam proses pembuatan kue. Berdasarkan survey, ternyata salah satu komponen penting bagi ibu rumah tangga adalah menikmati prosesnya. Lalu bagaimana perusahaan kue instan menyeimbangkan antara kemudahan membuat kue dengan proses yang dapat dinikmati oleh ibu rumah tangga? Perusahaan tersebut meracik produknya sehingga ibu rumah tangga masih perlu mencampurkan telur sendiri ke adonannya. Ternyata hal ini dirasa cukup memuaskan bagi ibu rumah tangga dan meningkatkan penjualan produk kue instan tersebut.

Maka, penting bagi Sahabat Wirausaha untuk memikirkan pula perspektif target konsumennya saat membeli dan menggunakan produk yang dijual. Jangan sampai produk yang dijual bentrok dengan kepribadian dan nilai yang dimiliki oleh calon konsumen.


Kesimpulan

Segala hal pasti memiliki risiko, apalagi dalam dunia wirausaha. Namun, risiko pasti dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Jangan sampai terlalu fokus menciptakan proses bisnis yang sempurna tetapi lupa untuk melihat ke dunia luar, karena kenyataannya ada banyak risiko yang berasal dari luar perusahaan. Pantaulah terus perkembangan teknologi, perkembangan preferensi pasar, dan hal-hal yang dapat menimbulkan perubahan agar Sahabat Wirausaha dapat dengan sigap beradaptasi.

Tidak kalah penting, jadilah bisnis yang selalu peka kepada konsumen dan lingkungan sekitar. Pastikan bisnis Sahabat Wirausaha tidak merugikan, atau lebih baik lagi, membuat lingkungan masyarakat menjadi lebih baik. Pastikan pula untuk selalu memikirkan perspektif konsumen saat mendesain sebuat produk. Bisnis yang peka terhadap sekitarnya, akan menjadi bisnis yang sukses!