Perlunya Belajar Keuangan agar Tak Perlu Kepepet Menggunakan Pinjol

Perlunya Belajar Keuangan agar Tak Perlu Kepepet Menggunakan Pinjol

Saya cukup beruntung karena saya memiliki pekerjaan tetap yang memungkinkan saya untuk mendapatkan kredit, baik Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kartu Kredit. Bahkan saya tidak perlu mengajukan diri, melainkan mereka yang menawarkan saya untuk menggunakan Kartu Kredit. Ketika saya selalu menolak, Kartu Kredit tersebut tetap dikirim ke alamat saya dan siap diaktifkan kapan saja.

Ya, bukan hanya pinjaman online atau pinjol ilegal, Bank pun agresif dalam menawarkan kredit, karena dari situlah mereka bisa tetap hidup. Sebaliknya, orang yang benar-benar butuh uang pinjaman (kredit) justru sulit mendapat akses untuk berhutang. Karena tak ada jaminan, tak ada pekerjaan formal tetap dan sebagainya.

Memang begitulah seharusnya hutang. Hutang hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar terukur untuk dapat melunasi pembayaran. Maka persyaratan untuk mendapat kredit oleh Bank tidak sembarangan. Begitupula nasabah yang terpilih untuk mendapat kartu kredit.

Berbeda dengan pinjol ilegal. Dari awal niat mereka adalah menjerat orang untuk tertipu dan terlilit utang sehingga mau tidak mau terpaksa harus mengorbankan harta benda yang mereka miliki. Itulah kenapa syaratnya mudah dan tak menggunakan prosedur berbelit.

Bunga kartu kredit yang dikeluarkan oleh Bank, pada umumnya adalah sebesar 2%- 3% per bulan atau 36% per tahun. Cukup besar bukan? Berbeda dengan “penawaran” pinjol ilegal yang menawarkan bunga 2% per tahun, seperti yang saya terima melalui SMS Terlalu mencurigakan bukan?

Nyatanya menurut cerita rekan saya yang terbelit hutang pinjol, bunga pinjol diberlakukan per hari keterlambatan. Maka hutang yang awalnya jutaan bisa menjadi puluhan juta. Mengapa? Jelas karena targetnya memang orang yang tak paham keuangan. Orang yang tidak mengerti cara  mengatur pendapatan agar cukup bagi kebutuhan, tentu berat bila masih harus ditambah cicilan hutang.

Maka menurut saya yang bisa menyelamatkan diri dari terbelit hutang dan gali lubang tutup lubang adalah MELEK KEUANGAN. Tidak ada yang lain.

Orang yang merasa susah dan merasa lahir dari keluarga susah akan bilang “Kamu tidak ada empati. Dari lahir sudah dapat privilege terlahir di keluarga berkecukupan”. Padahal dalam agama yang saya anut, Tuhan telah menjamin kecukupan bagi umatnya.

Anda pernah mendengar kabar bahwa bansos Pemerintah digunakan untuk belanja baju? Atau cerita tentang ibu-ibu yang mencairkan dana bantuan pendidikan yang seharusnya digunakan untuk pembelian seragam dan perlengkapan sekolah.

Rumah bedeng yang saya lewati di dekat rumah saya bahkan memiliki televisi layar datar dan kulkas yang bagus.

Ketika saya naik metromini saya mendapati pengamen yang memiliki handphone yang lebih baik daripada handphone yang saat itu saya gunakan, yang meruapakan handphone lawas bekas penggunaan ayah saya. Ya, saya tetap naik metromini meski pendapatan saya mampu membayar ojek atau bahkan taksi saat itu.

Orang yang tidak mengerti keuangan, jika diberi uang akan memikirkan bagaimana “menghabiskan” uang itu. Bukan untuk membayar kebutuhan pokok atau hutang, tetapi justru membeli barang-barang baru yang diinginkan. Tidak memikirkan jangka panjang tapi justru membeli apa saja yang ingin dibeli karena takut tidak dapat mendapat kesempatan lain.

Film “Orang Kaya Baru” tahun 2019 yang diperankan oleh Lukman Sardi, Cut Mini dan Raline Shah dapat memotret fenomena ini dengan sangat baik.

Saya pernah mengalami masa sulit dalam keuangan, yang akhirnya mengharuskan saya untuk mengaktifkan kartu kredit dari Bank yang saya ceritakan pada awal tulisan ini. Saya yang awalnya sudah “merasa” melek keuangan akhirnya belajar lagi. Saya membeli berbagai buku keuangan dan berhasil melewati masa-masa itu dengan baik. Tidak mudah tapi saya berhasil menyelesaikannya.

Saya tidak mengatakan berhutang itu buruk. Saya justru merasa bahwa kredit yang terukur bisa sangat membantu kita untuk meningkatkan kualitas hidup dan juga membesarkan bisnis. Tapi tentu dengan pengetahuan yang cukup.

Membeli buku memang butuh “pengorbanan”. Jika membutuhkan ilmu gratis, maka saat ini banyak pakar keuangan yang memberikan ilmu gratis melalui media sosial baik youtube maupun instagram. Itupun setidaknya harus modal kuota.

Tapi menurut saya membeli buku senilai Rp 150.000,- yang bisa membantu kita menyelesaikan hutang Jutaan Rupiah dan bahkan membantu kita untuk memiliki keuangan stabil dan masa depan yang terjamin jauh lebih ekonomis daripada membayar cicilan kredit pinjol.

Jelas ilmu adalah investasi yang berharga. Anda bisa mengubah seluruh sisa hidup Anda jika mau belajar. Apa yang saya dapatkan dari buku-buku tersebut?

Setidaknya saya tahu bagaimana memilah antara kebutuhan dan keinginan, apa yang harus menjadi prioritas ketika memiliki uang, mengatur pendapatan tiap bulan, mengelola hutang, bagaimana uang bekerja, ide untuk melipatgandakan uang secara legal dan halal, juga bagaimana saya harus berinvestasi untuk menjamin masa depan yang nyaman.

Buku-buku tersebut juga memberi ilmu tentang bagaimana cara berpikir dan bagaimana orang bermental kaya mengatur waktu dan uang mereka untuk  mencapai kesuksesan.