Cara Berinvestasi dengan Modal Kecil

Sektor keuangan adalah salah satu yang mengalami kemajuan pesat hingga saat ini. Sebut saja dompet dan uang digital yang kini sudah digunakan untuk alat pembayaran virtual.  Selain keduanya, instrumen keuangan lainnya, yaitu investasi turut berkembang. Kini kegiatan berinvestasi juga sudah familiar di kalangan anak muda. Hal ini dikarenakan akses dalam mencari informasi dan melakukan investasi yang sangat mudah.

Selain itu, forum-forum untuk bertukar pikiran terkait investasi juga banyak beredar di internet. Cukup bermodalkan gawai dan internet, kita bisa melakukan keduanya, bahkan saat sedang berkegiatan lain. Inarno, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, dalam Kompas pun memaparkan bahwa total jumlah investor di pasar modal Indonesia per 29 Desember 2021, telah meningkat 92,7 persen menjadi 7,48 juta investor dari yang sebelumnya hanya berada di angka 3,88 juta investor per akhir Desember 2020.

Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia cukup antusias untuk berinvestasi. Kenaikan angka secara signifikan ini juga didorong dengan beragamnya aplikasi yang menawarkan investasi modal kecil. Ketika zaman dulu seseorang harus menyiapkan nominal yang cukup besar dan hanya orang-orang tertentu yang boleh berinvestasi, kini hal tersebut bisa dilakukan oleh siapa saja dengan modal mulai dari Rp 10.000.

Cara kerja investasi modal kecil 

Salah satu instrumen investasi modal kecil yang bisa dipilih adalah reksadana. Nominal investasi untuk reksadana bisa kita pilih mulai dari Rp 10.000. Setelah itu, pilihlah perusahaan yang dituju untuk menanam saham. Nantinya, akan ada manajer investasi yang mengumpulkan dana dari para investor untuk kemudian dikelola pada berbagai instrumen, seperti pasar uang, saham, dan obligasi.

Setelah itu, uang yang kita investasikan akan diputarkan oleh perusahaan tersebut. Kemudian kita akan menunggu hasil bunga dengan masa tenor yang juga sudah dijanjikan. Hal yang perlu disiapkan Sebelum berinvestasi, diperlukan beberapa hal untuk disiapkan. Persiapan ini penting agar kita mengetahui tujuan berinvestasi sehingga terhindar dari kerugian.

Pertama, kita perlu menentukan tujuan apakah investasi yang dilakukan jangkanya panjang atau pendek. Apabila kita mulai dari modal kecil, pasti tujuannya bukan jangka pendek. Oleh karena itu, kita juga harus konsisten dan sabar menunggu hasilnya. Jangan terburu-buru menarik uang apabila target belum tercapai.

Yang kedua, kita juga harus memikirkan risiko. Saat mulai berinvestasi, jangan berpikir bahwa uang yang kita keluarkan akan menghasilkan keuntungan besar. Pemilihan instrumen juga menentukan besar kecilnya risiko yang didapat. Pastinya, apabila kita berinvestasi di saham dan reksadana, keduanya memiliki risiko yang berbeda.

Baca Juga :  7 Investasi Paling Populer di Indonesia, Apa Saja?

Untuk berinvestasi, gunakanlah ‘uang dingin’. Hal ini diperlukan agar uang kita tak hilang sepenuhnya. Apabila gagal dalam berinvestasi, setidaknya, uang yang hilang bukanlah uang utama. Cobalah untuk menentukan prioritas keuangan dan gunakan uang sisa dari kebutuhan utama untuk berinvestasi.

Terakhir, pilihlah perusahaan yang memiliki likuiditas tinggi. Kita bisa melihat dengan memperhatikan keadaan ekonomi di sekitar. Misalnya, pada saat pandemi, perusahaan di sektor pariwisata, pasti grafiknya menurun. Sementara itu, perusahaan di bidang kesehatan mengalami kenaikan.

Risiko investasi modal kecil 

Instrumen investasi sangat menentukan besar kecilnya risiko yang kita dapat. Untuk investasi modal kecil, risiko yang didapat tidaklah besar. Apalagi kita hanya mengeluarkan uang Rp 10.000 di reksadana. Akan tetapi, hal ini tentu berbeda saat kita berinvestasi dengan saham karena risikonya cenderung lebih tinggi.

Sebagai pemula, kita dapat menggunakan reksadana pasar uang untuk berinvestasi modal kecil. Selain itu, kita juga bisa melakukan crowdfunding–dengan teman yang dipercaya–apabila ingin menaikkan nominal investasi.

Pentingnya belajar literasi keuangan 

Anak muda adalah salah satu kelompok yang turut meramaikan dunia investasi. Bahkan menurut laporan KSEI per 30 September 2021, jumlah investor pasar modal dengan profesi pelajar mencapai 27,55 persen dengan total aset Rp 15,40 triliun.

Hal ini membuktikan bahwa Gen Z sudah melek soal investasi. Meskipun begitu, mudahnya akses, ternyata tak diimbangi dengan pemahaman keuangan. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2019 menunjukkan indeks literasi keuangan sebesar 38,03 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 76,19 persen.

Data inklusi dan indeks literasi ini memiliki selisih yang cukup jauh. Padahal, literasi keuangan itu penting agar saat berinvestasi, kita tak terjebak dengan investasi bodong. Terkadang, saat melihat teman mulai berinvestasi. Kita cenderung ikut-ikutan dan takut ketinggalan.

Dari situ, akhirnya kita mulai mencoba-coba berinvestasi tanpa mengetahui risiko, kiat-kiat yang tepat, hingga instrumennya. Agar tak terjebak pada lubang yang salah, pemahaman literasi keuangan harus dimulai dari sendiri.

Carilah literatur-literatur soal investasi atau unggahan media sosial yang kredibel. Kita harus memanfaatkan kemudahan akses dengan sebaik-baiknya. Pastinya seseorang yang sukses berinvestasi membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk meraihnya. Selain itu, meluangkan waktu untuk belajar juga diperlukan agar kita bisa paham cara kerja investasi sepenuhnya.