Beda Investasi Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang

Beda Investasi Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang

Dalam dunia investasi, selain profil risiko, harus paham juga dengan jangka waktu investasi. Lama atau sebentarnya kegiatan penanaman modal yang memengaruhi hasil atau keuntungan. Semakin lama uang diinvestasikan, maka keuntungan yang diperoleh akan semakin besar. Tak heran bila investor sejati lebih senang investasi jangka panjang.

Contoh suksesnya adalah Lo Kheng Hong. Warren Buffett-nya Indonesia ini pernah berkisah mendulang cuan 5.900 persen dari saham PT United Tractor Tbk (UNTR). Saham anak usaha PT Astra International Tbk itu, ia beli pada tahun 1998 ketika harganya Rp 250 per lembar. Kemudian ia simpan dan dibiarkan ‘tidur’ selama enam tahun. Lalu menjualnya di harga Rp 15.000 per lembar.

Jenis Investasi Berdasarkan Waktunya

Jangka waktu investasi dibedakan menjadi tiga jenis, yakni investasi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Berikut penjelasannya:

1. Investasi jangka pendek

Seperti namanya, investasi ini dilakukan dalam jangka waktu singkat, kurang dari satu tahun. Biasanya tujuan investasi jangka pendek, di antaranya menikah, liburan, maupun dana darurat.

Untuk investasi jangka pendek, sebaiknya taruh uang di instrumen yang lebih rendah risikonya, seperti deposito, reksadana pasar uang, Obligasi Negara Ritel (ORI), Savings Bond Ritel (SBR), dan peer to peer lending.

Tetapi yang perlu diingat, investasi di instrumen minim risiko sebanding dengan tingkat risikonya yang kecil. Contohnya rata-rata keuntungan reksadana pasar uang sekitar empat sampai enam persen per tahun.

Sementara deposito menawarkan tingkat bunga berkisar dua sampai enam persen per tahun, tergantung tenor dan nilai simpanan.

2. Investasi jangka menengah

Investasi jangka menengah adalah jangka waktu investasi dari satu tahun hingga lima tahun. Tujuan investasi umumnya untuk melanjutkan pendidikan, mempersiapkan DP rumah, dan lainnya.

Instrumen investasi yang tepat untuk jangka waktu ini, seperti ORI, sukuk ritel (sukri), reksadana pendapatan tetap, dan reksadana campuran. Investasi jangka menengah sangat cocok untuk kamu dengan profil risiko konservatif dan moderat.

Keuntungan atau tingkat imbal hasil reksadana pendapatan tetap dan campuran lebih tinggi dibanding reksadana pasar uang. Sedangkan kupon ORI dan sukri biasanya melebihi bunga deposito bank.

3. Investasi jangka panjang

Investasi jangka panjang memiliki waktu lebih lama, yakni lebih dari lima tahun. Sangat cocok buat kamu yang memiliki tujuan keuangan masa depan, seperti membeli rumah, biaya pendidikan anak, dana pensiun, dan lainnya.

Kamu dapat menempatkan dana di instrumen investasi yang pas untuk mencapai tujuan tersebut dengan keuntungan lebih besar, seperti saham, reksadana saham, maupun emas.

Tingkat imbal hasil dari instrumen investasi saham misalnya, berkisar 12 sampai 15 persen per tahun, bahkan bisa lebih dari itu. Investasi emas dalam jangka panjang berpotensi meraup untung hingga 12 persen setahun.

Namun semakin panjang masa investasi, semakin besar pula risikonya, seperti saham yang dikenal sebagai investasi high risk, high return karena mengikuti pergerakan pasar yang sangat fluktuatif.

Cara Menentukan Jangka Waktu Investasi

Setelah memahami jenis jangka waktu investasi, langkah selanjutnya adalah menentukan pilihan. Kamu dapat memilih dengan mempertimbangkan hal berikut:

• Tetapkan tujuan investasi

Mau investasi, harus tahu dulu apa tujuannya. Jadi tidak asal investasi, taruh duit, selesai. Tetapkan tujuan investasimu. Misalnya investasi untuk melanjutkan pendidikan, DP rumah, biaya menikah, pergi haji, atau liburan dalam waktu dekat. Sebab, tujuan investasi akan memengaruhi instrumen dan jangka waktu yang ingin diambil.

• Tentukan target atau jangka waktu investasi

Tahapan berikutnya, menentukan target investasi. Misalnya, tujuan investasi kamu mengumpulkan DP rumah 30 persen dari harga rumah Rp 500 juta, yakni sebesar Rp 150 juta.

Target persiapan DP tersebut lima tahun (60 bulan). Itu berarti kamu harus menyisihkan uang sebesar Rp 2,5 juta per bulan atau Rp 84 ribu per hari.

• Pilih instrumen investasi yang sesuai profil risiko

Setelah menentukan tujuan dan target atau jangka waktunya, kemudian pilih instrumen investasi yang sesuai profil risiko kamu. Apakah kamu termasuk tipe yang konservatif alias cari aman, moderat, atau agresif alias berani ambil risiko.

Jika kamu tipe yang agresif, sebaiknya pilih investasi reksadana campuran. Saham atau reksadana saham juga bisa agar dapat mencapai tujuan dengan cuan yang besar. Tetapi kalau kamu orang yang maunya cari aman, investasi emas, deposito, atau obligasi pemerintah tak jadi masalah.

• Alokasikan dana investasi

Sudah menyusun rencana investasi dengan matang percuma bila tidak disiplin menyisihkan uang dari penghasilan. Setiap bulan idealnya alokasi anggaran untuk bujet investasi sebesar 10 persen dari penghasilan.

Akan tetapi, bila ingin hasil lebih maksimal dengan modal yang lebih besar, kamu harus mencari penghasilan tambahan. Entah itu menjual keahlian, membuka bisnis, jualan online, atau lainnya.