6 Bisnis yang Punya Prospek Cerah di Masa Pandemi

6 Bisnis yang Punya Prospek Cerah di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2019 mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat, bahkan hingga mengalami minus hingga -5,32% pada Mei tahun lalu. Perlambatan itu bukan tanpa alasan, merebaknya Covid-19 mengharuskan masyarakat untuk merubah pola konsumsi yang selanjutnya berdampak bagi beberapa sektor usaha.

Badan Pusat Statistik mencatat setidaknya ada 82,85% lapangan usaha terdampak pandemi, dimana sektor yang terdampak paling parah adalah sektor akomodasi dan restoran (92,47%), sektor jasa (90,9%), transportasi dan pergudangan (90,34%), konstruksi (87,94%), industri pengolahan (85,98%), dan perdagangan (84,6%). Akibatnya seperti yang kita lihat, banyak usaha yang harus melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah tenaga kerja dan menutup usaha sementara waktu.

Di sisi lain, pembatasan sosial di masa pandemi mendorong terjadinya perubahan kebiasaan masyarakat seperti bekerja dan belajar dari rumah. Kebiasaan ini mendorong masyarakat menyesuaikan pola konsumsinya yang ternyata berdampak langsung bagi beberapa bisnis. Apa saja bisnis yang justru mengalami kenaikan di masa pandemi dan bagaimana kenaikan ini bisa terjadi ? Mari kita simak penjelasannya.

1. Bisnis Alat dan Perlengkapan Penunjang Kesehatan

Sektor kesehatan menjadi fokus utama pemerintah untuk menangani pandemi sehingga penerapan protokol kesehatan diberlakukan di berbagai daerah. Sebagai konsekuensinya, perlengkapan penunjang kesehatan seperti sabun cuci tangan, masker, face shield, hand sanitizer, desinfektan, suplemen, jamu herbal, hingga alat olahraga banyak dicari masyarakat selama masa pandemi.

Hal ini diakui para pemilik bisnis perlengkapan kesehatan jika mereka kewalahan menghadapi permintaan konsumen. Sejak Januari 2020, para produsen obat dan alat kesehatan terus meningkatkan kapasitas produksinya, khususnya masker. Produksi masker bahkan kini meningkat hingga tiga kali lipatnya untuk memenuhi permintaan pasar, ungkap Ahyahudin selaku Manajer Eksekutif Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki) melaluiTempo.

Pandemi ini tampaknya juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga daya tahan tubuh. Penerapan gaya hidup sehat seperti mengonsumsi lebih banyak nutrisi menjadi perhatian masyarakat sehingga permintaan suplemen meningkat. Iprice, sebuah situs yang membantu konsumen Indonesia membandingkan harga, membenarkan hal ini.Iprice, melakukan riset pada 2020 lalu tentang produk yang paling sering dibeli orang Indonesia selama pandemic, salah satunya adalah produk Vitamin C yang permintaannya naik hingga 1.986%.

Pembelian alat-alat olahraga seperti alat fitnes, sepeda lipat, bola basket, dll turut meningkat karena adanya pembatasan sosial yang menyebabkan masyarakat tidak bebas mengunjungi pusat kebugaran tubuh dan melakukan olahraga secara berkelompok di tengah pandemi, sedangkan olahraga kini menjadi salah satu lifestyle yang rutin dilakukan karena terkait dengan menjaga daya tahan tubuh.

Selain perlengkapan kesehatan modern, permintaan produk-produk herbal juga mengalami kenaikan. DalamWebinar yang diselengarakan Gabungan Pengusaha (GP) Jamu, Penny K. Lukito (Kepala Badan POM RI) menyampaikan bahwa permintaan jamu melonjak karena meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga daya tahan tubuh. Kabar baiknya, Badan POM memberikan kemudahan bagi pengusaha jamu tradisional dengan memberikan registrasi prioritas untuk obat tradisional yang diklaim bisa memelihara daya tahan tubuh.

2. Bisnis Peralatan &Furniture Rumah Tangga

Pembatasan sosial yang mengharuskan masyarakat tetap berada di rumah juga menyebabkan kebutuhan akan peralatan dan perlengkapan rumah tangga meningkat. Kabar baik ini disampaikan langsung oleh Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. MelaluiTempo, ia menjelaskan bahwa permintaan produk rumah tangga meningkat sebesar 400% selama pandemic terutama barang elektronik, furnitur, home décor, dan perlengkapan masak.

Hendry Wijaya, Product Marketing Manager Samsung, membenarkan hal ini. Menurutnya penjualan alat-alat rumah tangga meningkat pesat, terutama lemari pendingin karena banyak masyarakat yang memilih berada di rumah dan memasak sendiri sehingga membutuhkan kapasitas lemari es yang berukuran besar. Memang benar, karena faktor higienitas, orang lebih memilih untuk menyiapkan makanan sendiri di rumah. Pun pada perlengkapan yang berkaitan dengan memasak seperti alat masak, wadah penyimpan makanan, dan wadah minuman ikut meningkat karena adanya perubahan pola hidup tersebut.

Selain produk peralatan dapur, permintaan terhadap produk home décor juga terus bertambah. Dikutip dariWarta Ekonomi, penjualan produk kategori rumah tangga di salah satu e-commerce meningkat lebih dari dua kali lipat. Produk yang paling banyak dicari konsumen adalah produk tempat sepatu dan sandal, pengharum ruangan, bantal tidur, hiasan dinding, pot hias, sarung bantal, keramik, dan lampu hias.

Masih terkait dengan rumah tangga, produk kebutuhan rumah tangga seperti furnitur juga mengalami peningkatan permintaan selama pandemi baik dari sisi permintaan domestik maupun luar negeri. Sofa, meja makan set, dan lemari adalah contoh beberapa produk terlaris di pasar domestik. Ternyata furnitur buatan Indonesia pun menjadi favorit bagi konsumen luar negeri.Global Trade Atlas mencatat jika ekspor furnitur Indonesia ke AS periode Januari-Mei 2020 sebesar USD 582,11 juta atau meningkat sebesar 51,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 384,82 juta.

3. Bisnis Produk Kecantikan dan Fashion

Intensitas masyarakat berselancar di media sosial dan e-commerce yang meningkat selama pandemi, mendorong kenaikan belanja produk-produk kecantikan dan fashion. Menurut Menko Perekonomian, pertumbuhan bisniskecantikan dan fesyen meningkat hingga masing-masing sebesar 80% dan 40%.

Pada 2020 lalu Global Web Index juga sempat melakukan survei produk terlaris di kalangan pengguna media sosial, di antara produk yang paling banyak dibeli adalah baju dan sepatu (26,9%), kosmetik dan perawatan wajah (12,1%), dan perawatan tubuh lainnya (12%).

Mengenai meningkatnya permintaan akan produk kecantikan ini dibenarkan oleh Nuraini Razak, Vice President Corporate CommunicationTokopedia. Transaksi produk kecantikan sempat mengalami lonjakan 10 kali lipat pada periode Juli-September 2020. Serum wajah, krim pelembab, dan pembersih wajah adalah beberapa produk yang meningkat permintaannya selama pandemi.

Sedangkan untuk produk fesyen, penjualannya mengalami peningkatan drastis di e-commerceShopee. Banyak orang yang membeli piyama, daster, dan pakaian olahraga selama pandemi. Meningkatnya permintaan ini disebabkan karena diperpanjangnya masa WFH sehingga membuat orang berusaha membuat diri mereka semakin nyaman saat berada di rumah.

4. Bisnis Komoditi Pertanian dan Perkebunan

Bertani dan berkebun merupakan salah satu hobi yang kian diminati masyarakat selama periode pembatasan sosial. Di sejumlah area perkotaan, kegiatan urban farming, kini menjadi salah satu gaya hidup masyarakat. Selain bisa mengusir kebosanan, kegiatan bercocok tanam ini dapat menjadi solusi mengatasi kesulitan pangan selama pandemi. Umumnya masyarakat memanfaatkan lahan terbatas di area halaman rumah untuk menanam sayur mayur dan rempah-rempah.

Tidak hanya skala rumah tangga, inisiatif urban farming juga muncul di tingkat RT dan RW. Di permukiman yang sangat terbatas halamannya, biasanya sekelompok warga membentuk komunitas bertani dan memanfaatkan gang sebagai lahan pertanian vertikal. Karena perubahan kebiasaan ini, permintaan alat-alat bercocok tanam dan bibit tanaman mengalami kenaikan drastis.

Kabar baiknya, hasil bercocok tanam itu selain bisa dikonsumsi sendiri, juga bisa dipasarkan melalui platform digital seperti Tanihub. Menurut Astri Purnamasari (VP of Corporate Service Tanihub) yang dikutip dari Katadata, Tanihub akan membantu proses on-boarding para petani. Untuk mendaftar sebagai mitra di situs resmi Tanihub, mitra dapat mengisi formulir dengan menyertakan data diri dan komoditas yang ingin dipasarkan. Selama masa pandemi,Tanihub mengaku bahwa mengalami peningkatan penjualan sangat pesat yaitu lebih dari 600%.

Selain peralatan dan perlengkapan bertani, edukasi bertani dan berkebun secara online pun meningkat peminatnya. Sarah Adipayanti (Learning Coordinator Kebun Kumara) kepadabbc.com mengungkap bahwa minat masyarakat untuk berkebun makin tinggi di tengah pandemi. Melalui media sosial, ia kerap mendapat permintaan dari follower untuk mengadakan pelatihan berkebun. Kegiatan pelatihan berkebun yang diselenggarakan dapat diikuti dengan membayar biaya kontribusi sebesar Rp 300.000-350.000.

Berbicara tentang bisnis pertanian dan perkebunan, jangan lupakan salah satu bisnis yang pundi-pundinya melesat drastis selama pandemi yaitu bisnis tanaman hias. Seperti dikutip darirepublika, seorang penjual tanaman hias menceritakan kenaikan omset penjualannya bisa mencapai 300% dalam sebulan. Jika sebelum pandemi, omsetnya hanya 300 ribu per hari, di masa pandemi omsetnya bisa mencapai lima juta per hari.

Rata-rata pembeli tanaman hias adalah masyarakat ekonomi menengah. Karena pendapatan tidak begitu terdampak pandemi, kelompok ekonomi menengah membelanjakannya untuk kebutuhan hobi seperti mengoleksi tanaman hias. Diprediksi bisnis tanaman hias ini akan terus menghadapi permintaan yang tinggi selama beberapa bulan kedepan sepanjang pandemi.

5. Bisnis Pendidikan dan Mainan Anak

Kebutuhan akan pendidikan tetap menjadi prioritas selama masa pandemi. Anak-anak usia sekolah yang sementara tidak bisa berkunjung ke sekolah karena pembatasan sosial tetap membutuhkan variasi aktivitas di rumah. Selama pandemi, bisnis pendidikan seperti bimbel online dan mainan edukatif anak mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Dikutip daribisnis.com, sektor pendidikan dan pelatihan online mencatatkan pertumbuhan positif. Adanya perubahan aktivitas belajar dari pertemuan langsung menjadi pertemuan virtual menyebabkan penggunaan platform pembelajaran online semakin meningkat sehingga memberikan keuntungan bagi start-up digital berbasis pendidikan. Ruangguru sebagai sebuah platform bimbel online hingga saat ini telah melayani 22 juta pengguna di seluruh Indonesia hingga Desember 2020. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebanyak tujuh juta pengguna atau 46% dibandingkan Desember 2019.

Selain Ruang guru, peningkatan pengguna platform online juga dirasakan oleh platform edukasi online bernama Lingkaran. Wendy Pratama (CEO dan Founder Lingkaran) kepada bisnis.com mengungkapkan bahwa platform edukasi digitalnya semakin meningkat penggunanya di masa pandemi. Pelatihan kewirausahaan, pemasaran digital, manajemen keuangan dasar, dan pembangunan karakter yang ia selenggarakan semakin diminati.

Peningkatan permintaan juga dialami oleh bisnis mainan edukatif anak. Sejak pembatasan sosial, anak-anak dilarang untuk bermain di luar dan bertemu teman sebaya mereka. Sebagai gantinya, orang tua berusaha menghibur anak-anak dengan memberikan mainan selama anak-anak di rumah.

Seorang ibu asal Malang, Novia Maulina, sukses membangun bisnis mainan edukatif anakfunlearning_id di masa pandemi. Selama 6 bulan beroperasi, ia mendapat banyak permintaan dari para konsumen yang mayoritas merupakan para orang tua. Beberapa produk mainan miliknya bahkan pernah diekspor sampai Sydney, Australia. Sebenarnya ia sudah memiliki keinginan memproduksi mainan edukatif ini sejak lama tetapi momentumnya baru hadir ketika pandemi. Hingga saat ini, ia sudah menciptakan sekitar 30 jenis mainan anak yang dipasarkan melalui platform media sosial dan e-commerce.

6. Bisnis Makanan Olahan Kemasan

Awalnya bisnis makanan sempat mengalami penurunan tajam di awal pandemi. Beberapa usaha makanan sempat tutup karena ada pembatasan sosial dan masyarakat khawatir dengan kontaminasi virus dalam makanan. Seiring berjalannya waktu, sektor usaha ini terus membaik. Pemilik usaha makanan cepat saji dan tempat makan mungkin masih sepi pengunjung. Namun, jenis produk makanan olahan seperti frozen food dan cemilan yang relatif aman karena dikemas rapat dan dapat dipanaskan mengalami kenaikan signifikan selama masa pandemi.

Adanya peralihan kebiasaan selama pandemi mengharuskan masyarakat untuk melakukan sistem kerja dari rumah atau work from home. Mereka harus menyiapkan makanan sendiri atau memesan makanan online. Frozen food menjadi pilihan tepat karena memiliki keunggulan dari sisi kepraktisan, ketahanan, dan higienitas.

Dikutip darimetrotvnews, permintaan terhadap makanan beku dan frozen food mengalami peningkatan sebesar 50% selama pandemi. Diungkapkan oleh salah satu pemilik usaha resto bakso, Masbukhin Pradhana, usaha baksonya sempat turun karena pembatasan sosial yang melarang masyarakat untuk mengonsumsi makanan di kedainya. Untuk menambah pendapatan, ia mengemas baksonya sehingga pembeli bisa memasaknya di rumah. Menurutnya, cara ini sangat solutif untuk mendongkrak pendapatan usaha yang sempat turun selama pandemi.

Ade Kuswara, Production Director PT. Ardena Artha Mulia yang memproduksi makanan beku, mengungkapkan tidak hanya penjualan produk frozen food di sisi retail saja yang mengalami kenaikan, dari sisi agen dan reseller juga meningkat sebesar 5-10%. Bertambahnya jumlah agen dan reseller itu disebabkan karena ada sebagian orang yang mengalami PHK dan mencari alternatif pendapatan lain dengan menjual frozen food.

Peningkatan usaha makanan siap konsumsi berbasis home industry juga mulai menggeliat. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya mobilitas transportasi online yang menyediakan layanan antar makanan. Adanya pembatasan sosial yang melarang masyarakat untuk makan langsung di tempat menyebabkan masyarakat menggunakan jasa antar makanan sebagai solusinya.

Teknologi Digital, E-Commerce, dan Jasa Logistik Sebagai Penopang Perekonomian

Kabar baiknya, walaupun terjadi pembatasan sosial selama pandemi yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan usaha, perekonomian masih dapat berjalan karena adanya teknologi digital. Keberadaan teknologi digital mampu menjembatani transaksi ekonomi antara penjual dan pembeli. Meskipun tidak bertemu secara fisik, transaksi dapat terjadi melalui pertemuan virtual di dunia maya.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat sebanyak 301.115 UKM kini beralih ke usaha digital dimana mereka banyak memasarkan produknya melalui dua platform yaitu media sosial dan situs e-commerce.

Media sosial adalah platform yang paling sering dimanfaatkan oleh pelaku UKM sebagai saluran pemasaran. Selain karena mudah digunakan dan hampir tidak membutuhkan biaya, pelaku usaha dapat mengatur sistem penjualan secara mandiri. Di samping itu, pengguna media sosial yang jumlahnya relatif besar merupakan potensi pasar untuk mengenalkan produk. Sebuah perusahaan teknologi asal Prancis,Criteo, sempat melakukan survei tentang penggunaan aplikasi digital selama pandemi di Indonesia. Sejak awal Maret 2020 atau di masa awal pandemi, 70% pengguna smartphone di Indonesia meningkatkan alokasi waktunya untuk mengunjungi media sosial. Fakta ini menegaskan jika fitur media sosial sangat efektif digunakan sebagai saluran pemasaran bagi pelaku usaha selama pandemi.

Selain media sosial, platform penjualan online lain yang dapat digunakan pelaku usaha adalah situs e-commerce atau marketplace. Berbeda dengan media sosial, sistem penjualan di marketplace sudah terbentuk sehingga penjual hanya perlu mengikuti skema transaksi yang dibuat oleh pengelola marketplace. Selama pandemi, penjualan di marketplace mencatat kenaikan transaksi yang fantastis hingga 400%. Kenaikan ini disebabkan karena sejumlah faktor antara lain : meningkatnya jumlah pengakses internet selama pandemi dan gencarnya pengelola marketplace menawarkan promo belanja.

Yang tidak kalah penting, ada peran perusahaan logistik sebagai distributor barang dari penjual kepada pembeli. Baik penjual dan pembeli yang bertransaksi melalui platform digital sama-sama diuntungkan dengan keberadaan jasa logistik. Tanpa supply chain yang efektif, mobilitas barang dan jasa tidak dapat berjalan lancar.

Teknologi digital, bersama dengan platform e-commerce dan jasa ekspedisi terbukti menjadi mesin penggerak perekonomian selama pandemi. Sebenarnya ekonomi tidak benar-benar lesu, hanya saja mengalami penyesuaian-penyesuaian. Cepat atau lambat, ketika masyarakat mulai beradaptasi dengan perubahan ini, perekonomian bisa tumbuh seperti sedia kala dengan “wajah” barunya yaitu ekonomi digital.

Menyikapi Peluang-peluang Bisnis di Masa Pandemi

Jika satu pintu rezeki tertutup, di saat yang sama Tuhan membuka pintu rezeki yang lain. Demikian nasihat yang sering kita dengar agar tidak berputus asa dalam kondisi sempit sekalipun. Pandemi yang merebak sejak Maret 2020 memang membuat perekonomian terguncang. Tidak sedikit masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan mengalami penurunan usaha karena melemahnya daya beli masyarakat.

Perekonomian yang sempat melesu, perlahan mulai kembali menggeliat. Penyesuaian new normal membuka peluang-peluang bisnis baru yang beberapa jenisnya telah disebutkan. Penting bagi kita mengetahui informasi tersebut agar bisa melihat kemana uang beredar selama pandemi berlangsung.

Jika kita termasuk yang kehilangan pekerjaan dan usahanya menurun selama pandemi, bisnis-bisnis yang mengalami peningkatan permintaan bisa menjadi alternatif usaha yang bisa ditekuni.

Apa saja syarat untuk memulai bisnis selama pandemi ? Setidaknya ada empat langkah sederhana yang perlu kita lakukan.

Pertama, mulailah dengan menakar kemampuan diri dan kesempatan yang tersedia. Menilai kemampuan yang kita miliki bisa dilihat dari dua hal : apa yang kita sukai dan apa yang mampu kita kerjakan. Jika kita ingin memulai bisnis tanaman hias misalnya, ajukan pertanyaan kepada diri sendiri, apakah saya menyukai tanaman? dan apakah saya mampu merawat tanaman hias sehingga sampai dengan aman di tangan pembeli? Demikian halnya jika ingin memulai bisnis lainnya, tanyakan pada diri sendiri dan renungkan dua pertanyaan tersebut.

Kedua, melengkapi diri dengan pengetahuan bisnis yang kita ingin kita kembangkan sangatlah penting. Bagaimana kondisi pasar, siapa saja kompetitornya, produk apa yang paling diminati dan dicari konsumen. Kalau kita tertarik memulai bisnis perlengkapan kesehatan misalnya, lakukan riset terlebih dahulu untuk mengetahui trend permintaan pasar.

Cari informasi siapa konsumen kita dan apa yang mereka inginkan. Kita bisa melakukan riset sederhana dengan mengunjungi toko online yang menjual produk tersebut di e-commerce. Kunjungi kolom komentar etalase produk tersebut dan lihat bagaimana reaksi konsumen melalui foto, video,komentar, dan rating yang diberikan.

E-commerce, baik media sosial dan situs perdagangan online, adalah platform yang sangat menguntungkan bagi pelaku UKM sejauh ini. Selain informasi mengenai kualitas produk dan selera konsumen, pelaku UKM juga bisa meriset harga pasar dan menemukan supplier produk yang menawarkan barang dengan harga termurah.

Ketiga, tetapkan channel atau saluran penjualan. Saat ini, biaya marketing dapat dipangkas secara efisien dengan menggunakan platform media sosial dan e-commerce. Pemilik usaha dapat memasarkan produk secara luas kepada konsumen dengan fitur-fitur yang tersedia di platform digital mulai dari yang gratis hingga berbayar.

Keempat, mencatat pendapatan dan pengeluaran dengan cermat. Tanpa melakukan pencatatan keuangan secara rutin dan benar, kita tidak dapat mengambil keputusan yang tepat dalam berbisnis. Pencatatan keuangan diperlukan agar seorang pelaku UKM bisa melihat track record bisnisnya, berapa modal usaha yang digunakan, berapa biaya yang dikeluarkan, dan berapa keuntungan atau kerugiannya.

Mencatat keuangan meningkatkan kesadaran kita dalam membelanjakan aset usaha. Seringkali jika pengeluaran dan pendapatan tidak tercatat, kita bisa lupa kemana saja aset usaha dibelanjakan. Bahkan tanpa sadar uang kas usaha habis tak bersisa karena terpakai oleh keperluan pribadi. Itu sebabnya jika ingin bisnisnya berkembang, pelaku usaha perlu disiplin mencatat keuangan.

Bisnis-bisnis yang dicantumkan dalam artikel ini adalah contoh dari sekian bisnis yang berkembang pesat selama pandemi. Di sekitar kita, tentu bisa ditemukan peluang-peluang bisnis lain yang bisa digeluti seperti bisnis ikan hias, sepeda, otomotif, peti jenazah, dan sebagainya. Di masing-masing tempat, peluang yang ada mungkin berbeda-beda. Ada bisnis yang sedang berkembang pesat di suatu tempat, namun belum tentu berkembang di tempat lain.

Mencermati perkembangan di sekitar kita adalah kunci untuk menangkap peluang yang ada. Semoga artikel ini bisa menginspirasi pembaca yang sedang atau akan menapaki peluang usaha di masa pandemi.